(0362) 23022
08113892247
bpbd@bulelengkab.go.id
Badan Penanggulangan Bencana Daerah

EDUKASI KEBENCANAAN: MEMBANGUN MASYARAKAT TANGGUH BENCANA DI KABUPATEN BULELENG MENJELANG MUSIM HUJAN 2026–2027

Admin bpbd | 31 Oktober 2026 | 243 kali

Mengenali Ancaman Bencana dan Langkah Mitigasi di Lingkungan Sekitar

Salah satu materi penting dalam edukasi kebencanaan adalah kemampuan masyarakat mengenali potensi ancaman di lingkungan tempat tinggalnya.

Untuk wilayah Kabupaten Buleleng, beberapa ancaman yang perlu menjadi perhatian menjelang musim hujan 2026–2027 antara lain:

1. Banjir dan Banjir Genangan

Banjir dapat terjadi akibat meningkatnya debit air sungai, saluran drainase yang tidak mampu menampung aliran air, maupun berkurangnya daerah resapan.

Langkah antisipasi yang dapat dilakukan masyarakat:

  • Membersihkan saluran drainase dan gorong-gorong secara rutin.
  • Tidak membuang sampah ke sungai maupun saluran air.
  • Menghindari pembangunan yang menghambat aliran air.
  • Mengenali jalur evakuasi menuju tempat yang lebih aman.
  • Memindahkan barang berharga dan dokumen penting ke tempat yang lebih tinggi apabila terdapat potensi banjir.

2. Tanah Longsor

Wilayah perbukitan dan lereng yang memiliki kondisi tanah labil perlu mendapatkan perhatian, terutama ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi dan berlangsung dalam waktu lama.

Langkah antisipasi:

  • Menghindari aktivitas di sekitar lereng yang menunjukkan tanda-tanda pergerakan tanah.
  • Memperhatikan munculnya retakan tanah, pohon miring, atau rembesan air baru.
  • Tidak melakukan penebangan pohon secara sembarangan.
  • Memastikan saluran air tidak mengarah langsung ke lereng yang rawan longsor.
  • Segera mengungsi apabila muncul tanda-tanda longsor.

3. Angin Kencang dan Pohon Tumbang

Angin kencang berpotensi menyebabkan kerusakan bangunan, pohon tumbang, serta gangguan jaringan listrik dan akses transportasi.

Langkah antisipasi:

  • Memangkas ranting pohon yang terlalu rimbun atau berpotensi patah.
  • Memastikan atap rumah dan konstruksi bangunan dalam kondisi kuat.
  • Mengamankan papan reklame, benda ringan, dan barang-barang di luar rumah.
  • Menghindari berteduh di bawah pohon besar ketika angin kencang terjadi.
  • Menjauhi kabel listrik yang putus atau menjuntai.

4. Kekeringan dan Krisis Air Bersih

Walaupun mulai memasuki masa peralihan musim, dampak kekeringan masih dapat dirasakan masyarakat karena ketersediaan air tanah dan sumber air belum tentu langsung pulih setelah hujan turun.

Langkah antisipasi yang perlu dilakukan:

  • Menghemat penggunaan air bersih.
  • Menyimpan cadangan air untuk kebutuhan dasar.
  • Menjaga kebersihan sumber air dan tempat penampungan.
  • Melaporkan kebutuhan bantuan air bersih kepada pemerintah desa atau BPBD apabila terjadi kekurangan pasokan.

 

Membangun Kesiapsiagaan Dimulai dari Keluarga

Keluarga merupakan unit terkecil sekaligus salah satu unsur terpenting dalam membangun masyarakat tangguh bencana.

Setiap keluarga perlu memiliki pengetahuan dasar mengenai ancaman bencana di lingkungan tempat tinggalnya, termasuk menentukan langkah penyelamatan apabila terjadi keadaan darurat.

Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap keluarga meliputi:

  1. Mengenali ancaman bencana: mengetahui jenis bencana yang berpotensi terjadi di sekitar rumah.
  2. Menentukan jalur evakuasi: menetapkan jalur keluar rumah dan lokasi berkumpul yang aman.
  3. Menyiapkan tas siaga bencana: berisi air minum, makanan tahan lama, obat-obatan pribadi, pakaian, senter, baterai, peluit, masker, uang tunai, dan dokumen penting.
  4. Menyusun komunikasi keluarga: menentukan nomor kontak darurat dan anggota keluarga yang dapat dihubungi.
  5. Melakukan simulasi: melatih seluruh anggota keluarga agar memahami tindakan yang harus dilakukan ketika bencana terjadi.
  6. Memprioritaskan kelompok rentan: memastikan anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil, ibu menyusui, dan orang yang sedang sakit memperoleh bantuan evakuasi sesuai kebutuhannya.

Kesiapsiagaan keluarga akan semakin efektif apabila didukung oleh kesiapsiagaan lingkungan, desa, sekolah, dan lembaga terkait.

 

Bencana memang tidak selalu dapat dicegah, tetapi risiko dan dampaknya dapat dikurangi melalui pengetahuan, kesiapsiagaan, dan tindakan yang tepat.

Mari bersama membangun budaya sadar bencana mulai dari diri sendiri, keluarga, sekolah, lingkungan, hingga desa. Dengan masyarakat yang teredukasi, waspada, dan tangguh, Kabupaten Buleleng diharapkan semakin siap menghadapi berbagai potensi ancaman bencana pada musim penghujan 2026–2027 maupun pada masa mendatang.

Salam Tangguh! Siap Untuk Selamat!

Sumber : BNPB