(0362) 23022
08113892247
bpbd@bulelengkab.go.id
Badan Penanggulangan Bencana Daerah

BULELENG PERLU BERSIAP: TIGA BULAN KE DEPAN, HUJAN DIPRAKIRAKAN DI BAWAH NORMAL

Admin bpbd | 31 Agustus 2026 | 55 kali

Kekeringan tidak selalu datang dengan tanah yang langsung retak atau sumber air yang tiba-tiba mengering. Kadang ia hadir perlahan, hari demi hari tanpa hujan, debit sumber air yang menurun, tanah yang kehilangan kelembapannya, hingga kebutuhan air masyarakat dan pertanian mulai saling berebut ruang.

Karena itu, kewaspadaan terhadap kekeringan perlu dibangun sebelum dampaknya terasa, bukan setelah air menjadi persoalan.

Berdasarkan Buletin Iklim Bali Edisi Agustus 2026 yang diterbitkan Stasiun Klimatologi Bali BMKG, kondisi kekeringan di wilayah Bali perlu menjadi perhatian, terutama wilayah Bali bagian utara dan barat. Dalam pemantauan hingga 31 Juli 2026, wilayah utara dan barat Bali masih mengalami periode tanpa hujan yang cukup panjang. Bahkan, Pos Hujan Sumber Klampok dan Sumber Kima di Kecamatan Gerokgak tercatat mengalami hari tanpa hujan lebih dari 60 hari, yang masuk kategori Kekeringan Ekstrem.

Temuan tersebut penting bagi Kabupaten Buleleng. Sebab, dalam analisis kekeringan menggunakan Standardized Precipitation Index (SPI) periode Mei–Juli 2026, sebagian besar wilayah Kabupaten Buleleng berada dalam kategori Normal, sementara sebagian Kecamatan Gerokgak berada pada kategori Agak Kering.

Artinya, kondisi Buleleng tidak dapat dibaca hanya dengan satu warna.

Ada wilayah yang masih relatif normal, tetapi ada pula wilayah yang telah menunjukkan sinyal kekeringan yang lebih kuat.

Inilah mengapa kesiapsiagaan harus dilakukan secara berbasis wilayah, bukan dengan menganggap seluruh Kabupaten Buleleng memiliki kondisi yang sama.

Tiga Bulan ke Depan, Jangan Menganggap Hujan Akan Segera Menjadi Jawaban

Buletin BMKG tersebut memberikan gambaran yang patut diperhatikan untuk periode September–November 2026.

Secara umum untuk Provinsi Bali, curah hujan diprakirakan:

Bulan

Prakiraan Curah Hujan

Sifat Hujan

September 2026

1–50 mm

Bawah Normal

Oktober 2026

0–100 mm

Bawah Normal

November 2026

18–150 mm

Bawah Normal

 

BMKG menjelaskan bahwa prakiraan tersebut disusun melalui perhitungan statistik dengan mempertimbangkan kondisi fisis dan dinamis atmosfer serta kondisi lokal masing-masing Zona Musim, termasuk topografi wilayah Bali.

Dengan demikian, masyarakat Buleleng perlu memahami satu hal penting:

Hujan yang turun sesekali tidak selalu berarti persoalan ketersediaan air telah selesai.

Kekeringan meteorologis berkaitan dengan berkurangnya curah hujan dibandingkan kondisi normal dalam periode tertentu. Sementara itu, ketersediaan air tanah juga dipengaruhi oleh keseimbangan antara air yang masuk melalui hujan dan air yang hilang melalui proses evapotranspirasi.

Karena itu, satu kali hujan belum tentu langsung mengembalikan cadangan air tanah.

Mengapa Buleleng Harus Memberi Perhatian Khusus?

Kabupaten Buleleng memiliki wilayah yang luas dengan kondisi geografis dan karakteristik lingkungan yang beragam. Kondisi hujan pun tidak selalu seragam dari satu kecamatan ke kecamatan lainnya.

Data BMKG memberikan contoh nyata bagaimana perbedaan tersebut terjadi.

Pada akhir Juli 2026, ketika hujan kembali turun di sejumlah wilayah Bali bagian tengah dan timur, wilayah Bali bagian utara dan barat masih memiliki sejumlah pos hujan dengan kategori Sangat Panjang, yakni 31–60 hari tanpa hujan. Bahkan tiga pos hujan masuk kategori Kekeringan Ekstrem, dua di antaranya berada di Kabupaten Buleleng, yaitu Sumber Klampok dan Sumber Kima di Kecamatan Gerokgak.

Data tersebut bukan alasan untuk panik.

Sebaliknya, data adalah alarm agar kita tidak terlambat mengambil keputusan.

Jangan Panik, Jangan Pula Mengabaikan

Informasi prakiraan iklim bukan berarti bahwa setiap hari dalam tiga bulan mendatang pasti tidak akan turun hujan.

Prakiraan adalah informasi mengenai kecenderungan kondisi, bukan kepastian setiap kejadian cuaca di setiap lokasi.

Karena itu masyarakat Kabupaten Buleleng tetap perlu mengikuti informasi terbaru dari BMKG, BPBD Kabupaten Buleleng, pemerintah daerah, pemerintah kecamatan/desa, serta instansi teknis terkait.

Perubahan kondisi cuaca dan perkembangan lapangan harus menjadi dasar dalam memperbarui langkah kesiapsiagaan.

Mari jadikan informasi iklim bukan sekadar berita yang dibaca, tetapi pengetahuan yang diterjemahkan menjadi tindakan.

Hemat air hari ini. Jaga sumber air setiap hari. Bersiap sebelum kekurangan menjadi krisis.
Sumber : BMKG