(0362) 23022
08113892247
bpbd@bulelengkab.go.id
Badan Penanggulangan Bencana Daerah

Buleleng Memasuki Fase Kritis Musim Kemarau 2026: Saatnya Beralih dari Respons Bencana Menuju Budaya Antisipasi

Admin bpbd | 29 Juli 2026 | 201 kali

Kabupaten Buleleng merupakan wilayah terluas di Provinsi Bali dengan bentang alam yang sangat beragam, mulai dari kawasan pesisir utara sepanjang lebih dari 150 kilometer, dataran rendah, kawasan pertanian, hingga pegunungan di Kecamatan Sukasada, Busungbiu, Banjar, dan Tejakula. Keragaman tersebut menjadikan Buleleng memiliki karakter ancaman bencana yang berbeda dibandingkan kabupaten lain di Bali.

Ironisnya, ancaman terbesar pada musim kemarau bukan hanya kekurangan hujan, tetapi penurunan kapasitas lingkungan dalam menyediakan air. Ketika masyarakat masih melihat langit yang sesekali mendung, sebenarnya cadangan air tanah mulai menurun secara perlahan. Kondisi inilah yang sering luput dari perhatian.

Analisis iklim terbaru menunjukkan bahwa Provinsi Bali telah memasuki musim kemarau yang semakin kuat. Pola angin timur–tenggara telah mendominasi atmosfer Bali sebagai ciri khas musim kemarau, sementara curah hujan diprakirakan berada pada kategori Bawah Normal (BN) hingga Oktober 2026.
Bagi Kabupaten Buleleng, informasi tersebut bukan sekadar data meteorologi. Ini merupakan peringatan dini bahwa risiko kekeringan hidrometeorologi sedang meningkat.

 

Mengapa Buleleng Lebih Rentan?

Secara geografis, sebagian besar wilayah utara Bali berada pada sisi bayangan hujan (rain shadow) Pegunungan Tengah Bali. Massa udara lembap dari Samudera Hindia terlebih dahulu melepaskan hujan di wilayah pegunungan selatan sebelum mencapai pesisir utara.

Akibatnya, pada musim kemarau Buleleng menerima curah hujan jauh lebih sedikit dibandingkan wilayah Bali bagian selatan.

Fenomena tersebut diperkuat oleh hasil monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) Juni 2026 yang menunjukkan wilayah Bali Utara menjadi daerah dengan peningkatan durasi hari tanpa hujan. Bahkan Kecamatan Gerokgak tercatat memiliki pos hujan dengan kategori Sangat Panjang (31–60 Hari Tanpa Hujan), yaitu Pos Hujan Sumber Klampok dan Sumber Kima.

Ini merupakan indikator bahwa kekeringan meteorologis mulai berkembang.


Kekeringan Tidak Datang Sekaligus

Masyarakat sering menganggap kekeringan terjadi ketika sumur sudah mengering. Padahal dalam ilmu kebencanaan, kekeringan berkembang secara bertahap.

Tahap pertama adalah kekeringan meteorologis, ketika hujan berkurang.

Tahap kedua adalah kekeringan hidrologis, saat debit mata air, sungai, dan embung mulai menurun.

Tahap ketiga adalah kekeringan pertanian, ketika kelembapan tanah tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan tanaman.

Tahap terakhir adalah kekeringan sosial-ekonomi, yaitu ketika masyarakat mulai kesulitan memperoleh air bersih, produksi pertanian menurun, hingga harga pangan meningkat.

Artinya, ketika masyarakat mulai mengeluhkan kekurangan air, sebenarnya proses kekeringan sudah berlangsung cukup lama.

 

Ancaman Nyata bagi Kabupaten Buleleng

Berdasarkan karakter wilayah Kabupaten Buleleng, terdapat lima sektor yang paling rentan.

1. Krisis Air Bersih

Wilayah Gerokgak, Tejakula, Kubutambahan, Seririt, hingga beberapa desa di Banjar berpotensi mengalami penurunan debit sumber air lebih cepat dibandingkan wilayah pegunungan.

Permintaan air bersih biasanya meningkat tajam pada Agustus–Oktober.

2. Penurunan Produksi Pertanian

Analisis BMKG menunjukkan sebagian besar Bali diprakirakan memiliki ketersediaan air tanah kategori Kurang, termasuk untuk komoditas padi, jagung, kopi, kakao, dan jeruk selama Agustus hingga Oktober 2026.

Bagi Buleleng yang memiliki sentra hortikultura, perkebunan, dan sawah tadah hujan, kondisi ini memerlukan penyesuaian pola tanam dan efisiensi penggunaan air.

3. Peningkatan Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan

Vegetasi yang mengering menyebabkan api lebih mudah menyebar.

Wilayah perbukitan Gerokgak, Busungbiu, Sukasada, Banjar, dan Tejakula memiliki potensi meningkatnya kebakaran hutan maupun lahan apabila terdapat aktivitas pembakaran terbuka.

4. Gangguan Ekosistem

Musim kemarau berkepanjangan dapat meningkatkan suhu perairan dangkal, mempercepat penurunan debit mata air, serta mengganggu habitat satwa liar yang bergantung pada sumber air alami.

5. Dampak terhadap Pariwisata

Buleleng mengandalkan wisata alam seperti air terjun, kawasan pegunungan, serta wisata bahari.

Penurunan debit air pada air terjun maupun meningkatnya kejadian kebakaran lahan dapat memengaruhi daya tarik destinasi wisata.

 

Mengapa Tahun 2026 Perlu Diwaspadai?

Kondisi atmosfer menunjukkan adanya pengaruh El Niño dengan anomali suhu permukaan laut di wilayah Niño 3.4 sebesar +1,56°C pada Juni 2026, sementara pola angin timur–tenggara telah menguat sebagai penanda musim kemarau.

Kombinasi tersebut menyebabkan peluang hujan semakin kecil pada puncak musim kemarau.

Walaupun indeks kekeringan (SPI) Bali secara umum masih berada pada kategori Normal, kondisi tersebut tidak berarti masyarakat bebas dari ancaman kekeringan. Justru fase normal sering menjadi masa transisi sebelum terjadi penurunan kondisi apabila hujan tidak kunjung datang.

 

Apa yang Harus Dilakukan Masyarakat?

Mitigasi kekeringan jauh lebih murah dibandingkan penanganan darurat.

Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:

  • Menghemat penggunaan air sejak sekarang, bukan ketika sumur mulai mengering.
  • Menampung air hujan pada bangunan yang masih memiliki potensi hujan lokal.
  • Tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan.
  • Membersihkan semak kering di sekitar rumah.
  • Menyesuaikan pola tanam dengan kondisi musim.
  • Melakukan pengecekan rutin terhadap sumber air desa.
  • Melaporkan segera apabila ditemukan kebakaran lahan maupun penurunan debit sumber air secara signifikan.

 

Peran Bersama dalam Membangun Ketangguhan

Bencana kekeringan merupakan bencana yang berkembang perlahan (slow onset disaster). Karena datang tanpa suara, ancamannya sering kali kurang disadari.

Padahal dampaknya dapat berlangsung jauh lebih lama dibandingkan banjir atau gempa bumi.

Oleh karena itu, keberhasilan pengurangan risiko bencana tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada perubahan perilaku masyarakat.

BPBD Kabupaten Buleleng mengajak seluruh pemerintah desa, sekolah, kelompok tani, pelaku usaha, komunitas pariwisata, dan seluruh lapisan masyarakat untuk membangun budaya sadar risiko melalui penghematan air, perlindungan lingkungan, dan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau.

Bencana bukan semata-mata akibat alam. Bencana terjadi ketika ancaman bertemu dengan kerentanan. Semakin siap masyarakat Buleleng hari ini, semakin kecil dampak bencana yang akan dihadapi esok hari.