Kabupaten Buleleng merupakan wilayah
terluas di Provinsi Bali dengan bentang alam yang sangat beragam, mulai dari
kawasan pesisir utara sepanjang lebih dari 150 kilometer, dataran rendah,
kawasan pertanian, hingga pegunungan di Kecamatan Sukasada, Busungbiu, Banjar,
dan Tejakula. Keragaman tersebut menjadikan Buleleng memiliki karakter ancaman
bencana yang berbeda dibandingkan kabupaten lain di Bali.
Ironisnya, ancaman terbesar pada
musim kemarau bukan hanya kekurangan hujan, tetapi penurunan kapasitas
lingkungan dalam menyediakan air. Ketika masyarakat masih melihat langit yang
sesekali mendung, sebenarnya cadangan air tanah mulai menurun secara perlahan.
Kondisi inilah yang sering luput dari perhatian.
Analisis iklim terbaru menunjukkan
bahwa Provinsi Bali telah memasuki musim kemarau yang semakin kuat. Pola angin
timur–tenggara telah mendominasi atmosfer Bali sebagai ciri khas musim kemarau,
sementara curah hujan diprakirakan berada pada kategori Bawah Normal (BN)
hingga Oktober 2026.
Bagi Kabupaten Buleleng,
informasi tersebut bukan sekadar data meteorologi. Ini merupakan peringatan
dini bahwa risiko kekeringan hidrometeorologi sedang meningkat.
Mengapa Buleleng Lebih Rentan?
Secara geografis, sebagian besar wilayah utara
Bali berada pada sisi bayangan hujan (rain shadow) Pegunungan Tengah Bali.
Massa udara lembap dari Samudera Hindia terlebih dahulu melepaskan hujan di
wilayah pegunungan selatan sebelum mencapai pesisir utara.
Akibatnya, pada musim kemarau Buleleng menerima
curah hujan jauh lebih sedikit dibandingkan wilayah Bali bagian selatan.
Fenomena tersebut diperkuat oleh hasil monitoring
Hari Tanpa Hujan (HTH) Juni 2026 yang menunjukkan wilayah Bali Utara menjadi
daerah dengan peningkatan durasi hari tanpa hujan. Bahkan Kecamatan Gerokgak
tercatat memiliki pos hujan dengan kategori Sangat Panjang (31–60 Hari Tanpa
Hujan), yaitu Pos Hujan Sumber Klampok dan Sumber Kima.
Ini merupakan indikator bahwa kekeringan meteorologis mulai berkembang.
Kekeringan Tidak Datang Sekaligus
Masyarakat sering menganggap kekeringan terjadi
ketika sumur sudah mengering. Padahal dalam ilmu kebencanaan, kekeringan
berkembang secara bertahap.
Tahap pertama adalah kekeringan meteorologis,
ketika hujan berkurang.
Tahap kedua adalah kekeringan hidrologis,
saat debit mata air, sungai, dan embung mulai menurun.
Tahap ketiga adalah kekeringan pertanian,
ketika kelembapan tanah tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan tanaman.
Tahap terakhir adalah kekeringan sosial-ekonomi,
yaitu ketika masyarakat mulai kesulitan memperoleh air bersih, produksi
pertanian menurun, hingga harga pangan meningkat.
Artinya, ketika masyarakat mulai mengeluhkan
kekurangan air, sebenarnya proses kekeringan sudah berlangsung cukup lama.
Ancaman Nyata bagi Kabupaten Buleleng
Berdasarkan karakter wilayah Kabupaten Buleleng,
terdapat lima sektor yang paling rentan.
1. Krisis Air Bersih
Wilayah Gerokgak, Tejakula, Kubutambahan, Seririt,
hingga beberapa desa di Banjar berpotensi mengalami penurunan debit sumber air
lebih cepat dibandingkan wilayah pegunungan.
Permintaan air bersih biasanya meningkat tajam
pada Agustus–Oktober.
2. Penurunan Produksi Pertanian
Analisis BMKG menunjukkan sebagian besar Bali
diprakirakan memiliki ketersediaan air tanah kategori Kurang, termasuk
untuk komoditas padi, jagung, kopi, kakao, dan jeruk selama Agustus hingga
Oktober 2026.
Bagi Buleleng yang memiliki sentra hortikultura,
perkebunan, dan sawah tadah hujan, kondisi ini memerlukan penyesuaian pola
tanam dan efisiensi penggunaan air.
3. Peningkatan Risiko Kebakaran Hutan dan
Lahan
Vegetasi yang mengering menyebabkan api lebih
mudah menyebar.
Wilayah perbukitan Gerokgak, Busungbiu, Sukasada,
Banjar, dan Tejakula memiliki potensi meningkatnya kebakaran hutan maupun lahan
apabila terdapat aktivitas pembakaran terbuka.
4. Gangguan Ekosistem
Musim kemarau berkepanjangan dapat meningkatkan
suhu perairan dangkal, mempercepat penurunan debit mata air, serta mengganggu
habitat satwa liar yang bergantung pada sumber air alami.
5. Dampak terhadap Pariwisata
Buleleng mengandalkan wisata alam seperti air
terjun, kawasan pegunungan, serta wisata bahari.
Penurunan debit air pada air terjun maupun
meningkatnya kejadian kebakaran lahan dapat memengaruhi daya tarik destinasi
wisata.
Mengapa Tahun 2026 Perlu Diwaspadai?
Kondisi atmosfer menunjukkan adanya pengaruh El
Niño dengan anomali suhu permukaan laut di wilayah Niño 3.4 sebesar +1,56°C
pada Juni 2026, sementara pola angin timur–tenggara telah menguat sebagai
penanda musim kemarau.
Kombinasi tersebut menyebabkan peluang hujan
semakin kecil pada puncak musim kemarau.
Walaupun indeks kekeringan (SPI) Bali secara umum
masih berada pada kategori Normal, kondisi tersebut tidak berarti masyarakat
bebas dari ancaman kekeringan. Justru fase normal sering menjadi masa transisi
sebelum terjadi penurunan kondisi apabila hujan tidak kunjung datang.
Apa yang Harus Dilakukan Masyarakat?
Mitigasi kekeringan jauh lebih murah dibandingkan
penanganan darurat.
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan
antara lain:
Peran Bersama dalam Membangun Ketangguhan
Bencana kekeringan merupakan bencana yang
berkembang perlahan (slow onset disaster). Karena datang tanpa suara,
ancamannya sering kali kurang disadari.
Padahal dampaknya dapat berlangsung jauh lebih
lama dibandingkan banjir atau gempa bumi.
Oleh karena itu, keberhasilan pengurangan risiko
bencana tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada perubahan
perilaku masyarakat.
BPBD Kabupaten Buleleng mengajak seluruh
pemerintah desa, sekolah, kelompok tani, pelaku usaha, komunitas pariwisata,
dan seluruh lapisan masyarakat untuk membangun budaya sadar risiko melalui
penghematan air, perlindungan lingkungan, dan kesiapsiagaan menghadapi musim
kemarau.
Bencana bukan semata-mata akibat alam.
Bencana terjadi ketika ancaman bertemu dengan kerentanan. Semakin siap
masyarakat Buleleng hari ini, semakin kecil dampak bencana yang akan dihadapi
esok hari.