Mengenal Godzilla El Nino
Istilah "Godzilla El Nino" digunakan untuk
menggambarkan fenomena El Nino dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari
biasanya. Dalam kondisi normal, El Nino sendiri adalah fenomena pemanasan suhu
permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur.
Ketika fenomena ini menguat, pola pembentukan awan dan hujan ikut berubah. Awan cenderung terkonsentrasi di wilayah Samudra Pasifik, sehingga wilayah seperti Indonesia justru mengalami pengurangan awan dan curah hujan. Inilah yang kemudian memicu musim kemarau yang lebih panjang dan kering.
Mengutip dari postingan Instagram Badan Riset dan Inovasi
Nasional atau BRIN, fenomena ini disebut "Godzilla" karena skalanya
yang besar dan dampaknya yang tidak bisa dianggap ringan.
Melalui Instagramnya, Profesor Riset di Pusat Penelitian Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin bahkan mengungkapkan bahwa fenomena ini disebut berpotensi meningkatkan suhu hingga sekitar 1,5 hingga 2 derajat Celsius. Kenaikan ini memang tidak terjadi secara instan, tetapi akan terasa seiring penguatan fenomena yang dimulai dari awal kemunculannya.
Peran IOD Positif yang Memperparah Dampak
Prof Erma menambahkan bahwa fenomena El Nino ini
diprediksi akan terjadi bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif,
yang semakin memperkuat dampaknya di Indonesia.
IOD positif ditandai dengan pendinginan suhu permukaan
laut di sekitar wilayah barat Indonesia, terutama dekat Sumatra dan Jawa.
Kondisi ini menyebabkan pembentukan awan semakin berkurang di wilayah tersebut,
sehingga curah hujan menurun drastis.
Fenomena El Nino kuat dan IOD positif inilah yang berpotensi membuat musim kemarau menjadi lebih panjang, lebih panas, dan lebih kering dari biasanya.
Prediksi Terjadi Mulai April 2026
Mengutip postingan Instagram yang sama, sinyal kemunculan
El Nino diperkirakan mulai terlihat pada April 2026. Pada fase awal ini, curah
hujan masih bisa terjadi, terutama hingga akhir Maret.
Namun memasuki April, intensitas hujan diprediksi mulai berkurang secara bertahap. Awan semakin sedikit, dan kondisi cuaca akan beralih menjadi lebih kering. Inilah yang menjadi tanda awal masuknya periode kemarau yang lebih ekstrem dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Hujan Masih Terjadi Sebelum Kemarau Ekstrem
Prof Erma mengungkapkan bahwa meski prediksi El Nino
mulai muncul pada April 2026, kondisi cuaca tidak langsung berubah drastis.
Hingga akhir Maret, hujan masih berpotensi terjadi di berbagai wilayah
Indonesia.
Namun setelah memasuki April, intensitas hujan diperkirakan akan mulai berkurang secara signifikan. Seiring berjalannya waktu, kondisi akan semakin kering dengan dominasi cuaca panas di siang hari.
Dampak yang Mungkin Terjadi di Indonesia
Menurut penjelasan BRIN dan Prof Erm, dampak fenomena ini
tidak akan dirasakan secara merata di seluruh wilayah Indonesia.
Di wilayah selatan ekuator, seperti sebagian besar
Pulau Jawa dan Sumatra, kondisi kering berpotensi lebih dominan. Hal ini bisa memicu kekeringan, suhu udara yang lebih
panas, hingga peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Sementara itu, di wilayah utara ekuator, seperti sebagian
Kalimantan dan Sumatra bagian utara, justru ada kemungkinan terjadi hujan
dengan intensitas tinggi. Dalam beberapa kasus, kondisi ini bahkan bisa memicu
banjir.
Sumber : Instagram BRIN